Tidak Di Sangka!
Bangun pagi ini aku terlonjak dari kamarku
mendengarkan suara alarm sudah berbunyi, “hooamm! Pagi yang cerah.” Kataku
sambil menghidupkan hpku yang semalaman kucas, lalu masuk berpuluh-puluh pesan
dari grup ~#3 Girls #3~ di
whatsappku, aku memencetnya dan melihat isi chat itu...
“Astaga aku lupa!” kataku tersentak pada diri
sendiri dan langsung lari ke kamar mandi.
'Drrtt... Drrtt... Drrrtt...' suara bunyi telfonku yang ku buat getar. Telfon itu bunyi persis
setelah aku
selesai mandi dan mau mencari pakaian,
“Halo?” kataku setelah
memencet tombol jawab.
“Elisabethhh!! Kemana aja sih? Kan kita janji
mau piknik jam 9 pagi,
sekarang udah jam 9:15 tahu!” teriak
Sintha dan Kintan serempak,
uhk! Harusnya aku liat dulu nomornya siapa.
“i iya aku segera kesana kok tunggu 10 menit
ya, soalnya ban aku kempes nih” jawabku dengan berbohong karena ingin
menghindari amarah sahabat-sahabatku... okey aku akui aku memang tukang
terlambat di antara persahabatanku, tapi yahh syukurlah mereka ingin
memaklumiku.
Akhirnya aku sampai juga jam 9:30 ke rumah
Sintha dan langsung masuk ke mobilnya Kintan yang sudah di parkir di dekat
rumah Sintha. Mobilpun berjalan sementara aku
asyik menulis diary, Kintan sibuk bermain hpnya, sedangkan Sintha membaca buku
tentang misteri.
***
Sudah 2 jam kami berjalan dan akhirnya sampai
juga ke gunung Malaikat... ya
itulah namanya, kamipun segera merebahkan kain di tanah sebagai alas kami
makan, lalu meletakkan makanan yang kami bawa, dan akhirnya semuanya siap, kami bisa menikmati
pemandangan sambil makan.
Sesudah selesai makan kami bergegas mengambil
sepeda-sepeda kami dan menaikinya untuk jalan-jalan mengelilingi gunung.
“yuhuuu asyiknya!” teriak Sintha, Sintha memang
orangnya cerewet.
Setelah berkeliling selama 30 menit, kamipun beristirahat di
sebuah tempat yang indah, yang bisa menatap sampai jauh! Memang sih di bawahnya
itu jurang tapi gak dalam kalilah... Kintanpun berdiri dekat dengan jurang
untuk mengambil foto pemandangan, makin lama makin jauh... lalu Bruuk!
“Tolong!”
teriak Kintan yang langsung merespon perhatian kami, dan lihat! Kintan masuk jurang dan
kakinya lkelihatannya patah!
“Sintha cepet ambil P3K, biar aku turun kebawah
untuk memeriksa keadaan Kintan!”
perintahku pada Sintha yang langsung lari tunggang langgang kearah mobil Kintan
dengan sepedanya.
Akupun
menuruni jurang dengan tali yang ku sangkutkan di pohon yang kuat sekali, dan aku juga mengikat talinya
kenceng sekali!
Akhirnya aku sampai juga ke jurang dan langsung
memeriksa keadaan Kintan, “yaps kakimu memang patah tan.” Kataku pada Kintan,
lalu aku meninggalkan Kintan sendirian untuk mencari tanaman yang bisa
meredakan kaki Kintan yang patah.
Ketika aku kembali, aku tidak menemukan Kintan di
tempatnya berada,
“Kintannn! Dimana kamu? Jangan main-main ah... cepet kembali, masa kamu mau
main petak umpet di tengah kakimu yang patah?” kataku berulang-ulang, namun masih belum
mendengarkan suara Kintan.
“Elis kesini! Cepat aku melihat sesuatu yang
luar biasa.” Akhirnya aku mendengar suara Kintan dan langsung berlari menuju
arah suara Kintan.
Kau pasti tak percaya apa yang aku dan Kintan
lihat...
“Sebuah museum!” seru kami berdua serempak,
yahh itu adalah sebuah museum yang pintunya di pahat di dalam batu.
“Astaga Museum bawah tanah!” kataku terpekik kaget karena heran dan takjub.
“Tunggu
apa lagi? Ayuk masuk Elis...
kita harus melihat isinya, cepetlah Elis jangan hanya mematung disana.” kata
Kintan dengan tersaruk-saruk menuju museum itu.
Lalu
aku langsung menghadangnya,
“Tan jangan! Kakimu kan patah, jangan masuk! Biar aku saja yang
memfotokannya buatmu.”
“Elis jangan gitu donk! Aku juga mau lihat,
menyingkirlah biar aku bisa masuk.” Kata Kintan membantah.
“kau keras kepala ya Kin? Sini biar aku gendong saja, Nanti lukamu makin parah lagi!” Kataku berusaha membatu
Kintan, “Uh berat sekali.”
“makasih ya Elis udah mau bantu aku.”
Di dalam pengap sekali, akupun mengeluarkan
senter sambil menggendong Kintan. Di dalam banyak sekali buku berserakan, dan banyak sekali hal-hal
lain yang bertebaran di lantai.
“Sepertinya bukan museum... terlihat seperti
perpustakaan, tapi
juga terlihat seperti lab uji coba!” kata Kintan yang segera ku iyakan pula,
karena memang tampak seperti itu.
Setelah mengambil beberapa buku, barang-barang
yang berserakan yang sepertinya
menarik, dan memfoto tempat itu,
kamipun segera keluar karena mendengar suara orang berteriak dari atas tanah.
Lalu Kintanpun di gendong oleh supirnya, atau bisa di bilang asisten
pribadinya. Menuju mobil
yang tadi di bawanya dan membalut kaki Kintan dengan kapas dan obat-obatan
lainnya, lalu kamipun
segera menuju ke rumah sakit terdekat. Di perjalanan aku menceritakan pengalaman aku dan Kintan pada Sintha
dan jelas terlihat mimik muka Sintha yang iri dengan kami, “Ih kalian jahat gak
panggil aku!” kata Sintha merajuk,
“eh jangan marah donk, nanti kalau kaki
Kintan dah sembuh kita kesana lagi sambil membawa buku-buku yang tersisa di
dalam kepada perpustakaan.” rayuku supaya Sintha tidak merajuk lagi.
Dan liburan kami berakhir karena kaki Kintan
yang patah, namun Kintan tak menyesal karena itu membuatnya menemukan hal-hal
yang tak orang tahu, yaps segini dululah yang bisaku ceritakan! And See you
again in the next adventure.
Tags:
Cerita

0 komentar