Sintha Kenapa!?
Elisabeth POV
“Makasih ya Kin, udah ngajakin kita dua ikutan bareng kamu ke
sini!” kataku dengan bahagia.
“Iya Kin, kami bersyukurrr banget punya temen yang tajir kayak
kamu! Kesini ini bagaikan mimpi bagi kita.” Seru Syinta mengiyakan ucapan
terima kasihku.
“Ck, biasa aja kaliii! Yuk jalan, sopir ayahku
udah nunggu tuh!” kata Kintan dengan gayanya yang
biasa kaku dan dingin, yah walau aku melihat di balik kaca matanya yang
berwarna hitam itu sebuah senyuman yang di tahan, aku tahu sekali
Kintan pasti senang.
“Ah, happy to see you Miss Kintan and your friend! I think Mr.
Parker and Madam. Greta waiting you...” sapa pelayan ayahnya
Kintan yang logat bicaranya logat orang inggris asli.
“Of course mr. Jack, lets go! i am relly miss my parents.” Jawab
Kintan dengan bahasa inggris pula, memang saat ini kami sedang berada di London
ibu kota Inggris.
Kamipun langsung masuk ke mobil Kintan yang segara berjalan
meninggalkan bandara menuju rumah kediamaan orang tua Kintan. Sedikit ku
perjelas, Kintan adalah anak tunggal dari Mr. Parker yang adalah seorang
pebisnis kaya raya yang terkenal di Inggris, dan hartanya setara dengan para bangsawan. Sementara ibunya, yaitu Madam. Greta yang terlahir
sebagai orang Indonesia campuran Korea & Jawa, yang terlahir sebagai putri konglomerat. Jadi Kintan adalah
campuran Inggris, Korea dan Indonesia, makanya Kintan orangnya tajir melintir! Tapi dia tinggal
sendirian bersama para pelayannya di Indonesia, karena dia sudah
terlanjur bersekolah di Indonesia. Memang dulu keluarganya Kintan sempat tinggal di Indonesia, namun kembali lagi ke inggris untuk urusan bisnis.
Mobilnya Kintan pun masuk ke sebuah istana yang megah sekali! Tapi
sih masih lebih megah istana kerajaan inggris ya xD.
“Okeh Gaes, lets go! I think you guys tired, coming.” Kata Kintan
yang keluar dari kursi mobilnya, lalu kamipun ikutan Kintan kemanapun dia pergi.
Rasanya canggung sekali berada di rumah yang kayak istana itu.
“Kintan kesayangan mama, kamu datang juga akhirnya!” ucap seorang
wanita yang suaranya lembut sekali, dan Kintanpun melesat lari ke pelukan
wanita itu.
“Ah mama! Aku rindu banget sama mama... malah tahun lalu aku gak
bisa jumpa mama lagi.” Rajuknya.
“hahaha iya sayang, mama juga rindu banget sama kamu! Sekarang
kamu sudah besar ya, sudah 14 tahun.” Balas mama Kintan
dengan dengan senyuman hangat di bibirnya.
“Umm kurasa keberadaan kami disini tak terihat ya.” Kataku dalam
hati yang semakin merasa canggung saja, dan ketika ku lirik Sintha diapun
terlihat canggung pula.
“Oh ya ma, aku bawa sahabatku yang kemaren aku bilang di telfon
itu lho!”
“Wah-wah ini toh sahabatnya Kintan... makasih ya udah ngejagain
Kintan selama tante pergi, Kintan itu orangnya susah banget bergaul, tapi tante
senang pas di telfon Kintan bahwa sekarang dia udah punya teman... eh sahabat
maksudnya hehehe.” Kata Madam. Greta sambil menatap kami berdua, sebenarnya
tadi kami ketakutan, tapi melihat ucapannya yang ramah dan
lembut membuatku jadi lega.
“Iya kami juga senang kok sama Kintan, tapi Madam. Greta jangan
salah pikir dulu! Kami berteman dengan Kintan bukan karena uangnya kok... tapi
karena kami memang punya kesamaan hihihi.” Kataku mewakili Sintha, entah kenapa
dari tadi Sintha membungkap terus.
“etsss, lain kali jangan panggil Madam donk! Kan gak enak
dengarnya... panggil Mama Greta saja, karena mama udah nganggap kalian
anak-anak mama juga kok! Yuk ke kamar, kalian pasti
sudah capek.”
Sesampainya di kamar Sintha langsung mandi dan tidur,
“Si Sintha kenapa? Dari tadi gak banyak
bicaranya, kayaknya dia sakit deh.” Kataku dengan heran melihat tingkah Sintha.
“Kagak tahu gw, sebenarnya bingung juga sama si Sintah, gak
biasanya dia gak cerewet.” Balas Kintan pula, lalu kamipun tertidur dengan
pulas sampai pagi.
***
‘Kconk... knock... knock...’ bunyi ketukan pintu yang di ketuk di luar.
“Hoaaamm! Yes coming.” Kata Kintan yang terbangun dari tempat tidurnya, lalu disusul olehku yang juga terbangun, dan disusul lagi oleh Sintha. Kamipun semua keluar dari kamar dan sarapan, setelah selesai
sarapan kami jalan-jalan menggunakan kuda yang tinggal di tempat Kintan, Kintan
menggunakan kuda miliknya yang bernama White, lalu aku menggunakan kuda milik
ayahnya Kintan yang bernama Black, dan Sintha menggunakan kuda milik ibunya
Kintan yang bernama brown, kamipun bermain di taman tersebut, lalu kami
menghitung kamar milik keluarga Kintan jumlahnya 50 kamar, kamar mandi
berjumlah 10 kamar, ruang tamu dan ruang dansa 5 tempat, dan masih banyak lagi
ruangan di rumah Kintan.
“Astaga Kintan! Kok kamar saja di buat sampai 50 biji sih? Dan
ruangan lainnya juga masih banyak, gimana ngururusnya?
Pelayanannya berapa?” oceh Sintha takjub.
“Yah karena ayahku orang penting, jadi banyak
tamu biasanya, yang berdatangan dan harus buat banyak
ruangankan!? Kalau soal pelayan sih... ada 35 orang pelayan yang bekerja di
rumah ini.” Kata Kintan menjawab pertanyaan Sintha.
“Btw Sin, kok kamu kamaren diam-diam bae? Sakitkah?” tanyaku sambil nyengir melihat Sintha yang sudah pulih kembali.
“Wehehe, kemaren aku
mabuk tempat tinggi, jadi pas di bandara itu aku tahanin pusingnya dan baru
sekarang deh sembuh... ini semua berkat mama Greta! Dia tadi pagi sebelum
berangkat, memberikanku obat dan aku sembuh deh.” Jawab
Sintha tertawa.
“Ampuun deh!” Omel kami berdua, “Astaga! Kirain kamu kenapa-napa.”
Yak! Kamipun menikmati liburan kami dengan riang gembira. Maaf ya kawan-kawan yang sudah nebak-nebak yang aneh-aneh apa yang terjadi... rupanya Sinthanya mabuk tempat tinggi! Wehehe sekali lagi minta maaf ya!
Tags:
Cerita

0 komentar